Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility

Perkuat Jejaring tNGS TB, BB Labkesmas Makassar Gelar Surveilans Tuberkulosis di Maluku

Kepala Instalasi Mikrobiologi dan Biomolekuler BB Labkesmas Makassar saat melakukan kunjungan surveilans tuberkulosis di fasilitas kesehatan Provinsi Maluku.

AMBON — Tuberkulosis (TBC) hingga kini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia yang menuntut penanganan komprehensif. Keberhasilan deteksi dini dan pengobatan penyakit ini sangat bergantung pada kekuatan jejaring laboratorium rujukan. Sebagai bentuk nyata penguatan layanan tersebut, Kepala Instalasi Mikrobiologi dan Biomolekuler Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Makassar melaksanakan kegiatan surveilans tuberkulosis berbasis laboratorium di Provinsi Maluku pada Kamis, 17 September 2026.

Dalam lawatan kerja lintas fasilitas ini, tim mengunjungi sejumlah instansi kesehatan kunci di Maluku, yang meliputi RSUP dr. Johanes Leimena, RSUD dr. M. Haulussy, Klinik Utama Lawamena BKPM, hingga Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Maluku. Kunjungan komprehensif ini dirancang untuk memetakan sejauh mana efektivitas jejaring deteksi tuberkulosis berbasis laboratorium berjalan di daerah, mulai dari fasilitas pelayanan rujukan tingkat lanjut hingga laboratorium kesehatan daerah.

Peran strategis surveilans tuberkulosis BB Labkesmas Makassar di Maluku sangat krusial mengingat institusi ini diamanahkan sebagai Laboratorium Rujukan Sekuensing/targeted Next-Generation Sequencing (tNGS) TB untuk lima provinsi di wilayah Indonesia Timur, di mana Provinsi Maluku menjadi salah satu wilayah kerjanya. Melalui program nasional Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi), BB Labkesmas Makassar mengemban mandat khusus untuk menyelenggarakan pemeriksaan lanjutan berbasis teknologi sekuensing genetik molekuler guna mendeteksi kasus TBC resisten obat (RO) tingkat lanjut secara presisi di seluruh jejaring wilayah kerjanya.

Melalui peninjauan langsung ke fasilitas kesehatan di Maluku, tim dapat mengidentifikasi berbagai tantangan operasional di lapangan serta mengevaluasi alur pengiriman sampel spesimen. Langkah evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap fasilitas kesehatan memiliki kapasitas yang memadai, sekaligus mengidentifikasi area-area yang masih memerlukan pendampingan teknis demi mempercepat penemuan kasus secara dini dan menekan laju penyebaran infeksi TBC di tengah masyarakat.

Bagi masyarakat di Provinsi Maluku, penguatan jejaring laboratorium berbasis molekuler ini memberikan jaminan akses yang lebih baik terhadap diagnosis dan penanganan medis yang akurat. Dengan teknologi tNGS TB yang terintegrasi, penentuan jenis pengobatan bagi pasien TBC resisten obat dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran. Kolaborasi erat antara BB Labkesmas Makassar dan fasilitas kesehatan di Maluku memperkokoh fondasi ketahanan kesehatan regional dalam upaya bersama mengeliminasi tuberkulosis secara berkelanjutan di kawasan Indonesia Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *