GORONTALO — Dalam upaya memperkuat deteksi dini terhadap ancaman resistansi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR), Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Makassar melaksanakan kegiatan pemantauan dan evaluasi alur rujukan sampel di Provinsi Gorontalo pada Selasa hingga Rabu, 15–16 September 2026. Peninjauan lapangan ini diselenggarakan untuk memastikan sistem ketertelusuran serta kecepatan pengiriman spesimen medis dari fasilitas pelayanan kesehatan di daerah menuju laboratorium rujukan dapat berjalan secara optimal.
Resistansi antimikroba merupakan kondisi di mana mikroorganisme seperti bakteri mengalami kekebalan terhadap obat antibiotik yang seharusnya efektif menyembuhkan infeksi. Fenomena ini menjadi salah satu ancaman serius dalam dunia kesehatan global yang membutuhkan pengawasan terintegrasi dan berkelanjutan. Penanganan efisien terhadap potensi penyebaran mikroba resisten sangat bergantung pada keandalan alur rujukan sampel medis, mulai dari tingkat rumah sakit hingga ke fasilitas pengujian rujukan regional.
Dalam rangkaian kegiatan surveilans AMR di Gorontalo ini, tim penyelia menyambangi Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo serta tiga fasilitas pelayanan kesehatan rujukan utama. Ketiga rumah sakit tersebut meliputi RSUD Aloei Saboe, Rumah Sakit Islam Kota Gorontalo, serta RS Bunda Gorontalo. Pemantauan difokuskan pada kesiapan operasional tata kelola spesimen, kepatuhan prosedur pengemasan medis (sample packaging), hingga efisiensi waktu pengiriman sampel AMR menuju BB Labkesmas Makassar selaku laboratorium rujukan.
Kegiatan evaluasi ini dihadiri langsung oleh Kepala BB Labkesmas Makassar serta didampingi oleh Ketua Tim Kerja Surveilans Penyakit, Faktor Risiko Kesehatan, dan KLB. Kehadiran jajaran pimpinan tertinggi instansi ini menandakan bahwa penanganan isu resistansi antimikroba bukan sekadar urusan teknis operasional belaka, melainkan agenda strategis penjaminan keselamatan publik. Kelemahan pada satu rantai rujukan dapat berakibat pada keterlambatan identifikasi pola kuman resisten di tengah masyarakat.
Bagi masyarakat di Provinsi Gorontalo dan sekitarnya, penguatan alur rujukan sampel ini memberikan kepastian penanganan medis yang lebih aman dan presisi. Dengan sistem pengawasan yang solid dan responsif, pemetaan pola kepekaan kuman di fasilitas kesehatan dapat terpantau secara akurat. Hal ini sangat mendukung para tenaga medis dan pemangku kebijakan dalam merumuskan panduan terapi antibiotik yang rasional serta mencegah meluasnya penyebaran bakteri kebal obat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Melalui penyelenggaraan pemantauan surveilans AMR di Gorontalo secara berkala, sinergi antara laboratorium rujukan, dinas kesehatan, dan rumah sakit daerah diharapkan dapat terus diperkokoh. Penguatan jejaring pengawasan medis secara berjenjang menjadi pilar utama dalam membangun sistem ketahanan kesehatan yang tangguh, responsif, serta mampu melindungi masyarakat dari ancaman infeksi mikroba berbahaya di kawasan Indonesia Timur.





