Daftar Isi
Tuberkulosis atau TB masih menjadi salah satu masalah kesehatan paling serius di Indonesia dan dunia. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025 yang diterbitkan WHO, Indonesia berada di posisi kedua dunia dalam hal beban TB, menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB global, setelah India.¹ Diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus TB dan 125.000 kematian per tahun di Indonesia, atau setara dengan sekitar 14 kematian setiap jamnya.²
Yang menjadi tantangan besar dalam penanggulangan TB bukan hanya kasusnya yang aktif dan bergejala, tetapi juga bentuknya yang “tersembunyi”, yaitu Tuberkulosis Laten atau Latent Tuberculosis Infection (LTBI). Pada kondisi ini, bakteri Mycobacterium tuberculosis sudah ada di dalam tubuh seseorang, tetapi belum menimbulkan gejala apapun. Orang dengan LTBI tidak menularkan penyakit, namun berisiko berkembang menjadi TB aktif terutama jika sistem imunnya melemah.³
Untuk mendeteksi kondisi inilah, dunia laboratorium klinik kini memiliki alat yang jauh lebih akurat dari sebelumnya: Interferon-Gamma Release Assay, atau yang lebih dikenal dengan singkatan IGRA.
Apa Itu Pemeriksaan IGRA?
IGRA adalah pemeriksaan imunologis in vitro berbasis sampel darah yang dirancang untuk mendeteksi infeksi Mycobacterium tuberculosis, baik pada kondisi laten maupun sebagai pemeriksaan pendukung dalam diagnosis TB aktif. Kata in vitro berarti pemeriksaan ini dilakukan sepenuhnya di laboratorium menggunakan sampel darah, bukan langsung pada tubuh pasien.³
Prinsip dasar IGRA bertumpu pada respons imun seluler tubuh. Ketika seseorang pernah terpapar bakteri TB, sel T-limfosit dalam darahnya akan “mengingat” paparan tersebut. Jika sel-sel T ini kembali dipertemukan dengan antigen spesifik TB di laboratorium, mereka akan bereaksi dengan melepaskan sitokin bernama Interferon-Gamma (IFN-γ). Kadar IFN-γ yang dilepaskan inilah yang diukur dan dijadikan dasar interpretasi hasil pemeriksaan.⁴
Sederhananya: IGRA tidak mencari bakterinya secara langsung, melainkan “menanyakan” kepada sistem imun tubuh apakah ia pernah bertemu dengan bakteri TB sebelumnya.
Antigen Kunci: Mengapa IGRA Lebih Spesifik?
Keunggulan mendasar IGRA dibandingkan metode lama terletak pada antigen yang digunakannya. IGRA menggunakan antigen ESAT-6 (Early Secretory Antigenic Target-6) dan CFP-10 (Culture Filtrate Protein-10), yaitu protein yang secara eksklusif diproduksi oleh Mycobacterium tuberculosis dan beberapa mikobakteria patogen tertentu.⁴
Antigen-antigen ini tidak ditemukan pada vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) maupun sebagian besar mikobakteria non-tuberkulosis lainnya. Ini adalah perbedaan yang sangat krusial. Di Indonesia, vaksin BCG diberikan secara rutin pada bayi, sehingga hampir seluruh populasi dewasa memiliki riwayat BCG. Pada tes lama seperti TST atau Mantoux, riwayat vaksinasi BCG ini sering menghasilkan reaksi positif palsu (false positive) yang menyesatkan. Dengan IGRA, masalah ini dapat dihindari.⁵
Dua Platform Utama IGRA
WHO merekomendasikan sejumlah produk IGRA komersial untuk digunakan dalam diagnosis infeksi TB, termasuk QuantiFERON-TB Gold (QFT-G), QuantiFERON-TB Gold In-Tube (QFT-GIT), QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-Plus), T-SPOT.TB, dan TB-IGRA dari Beijing Wantai.⁴ Di antara semuanya, dua platform yang paling banyak digunakan secara klinis adalah QuantiFERON dan T-SPOT.TB.
QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-Plus)
QFT-Plus menggunakan metode ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) untuk mengukur konsentrasi IFN-γ secara kuantitatif dalam plasma darah. Sampel darah diinkubasi selama 16 hingga 24 jam dalam tabung khusus yang sudah dilapisi antigen spesifik TB, kemudian kadar IFN-γ yang dihasilkan diukur. Keunggulan QFT-Plus dibanding generasi sebelumnya terletak pada kemampuannya mengukur respons imun dari dua jalur sel T sekaligus, yaitu sel CD4+ dan sel CD8+, yang memberikan informasi imunologis yang lebih lengkap.⁴
T-SPOT.TB
T-SPOT.TB bekerja menggunakan platform ELISPOT (Enzyme-Linked Immunospot). Berbeda dengan QFT yang mengukur konsentrasi protein IFN-γ, T-SPOT secara langsung menghitung jumlah sel T yang aktif memproduksi IFN-γ setelah distimulasi antigen TB. Teknik pemisahan sel mononuklear yang dilakukan sebelum inkubasi pada T-SPOT memungkinkan hasil yang relatif lebih stabil pada pasien dengan kondisi imunosupresi tertentu.⁵
Bagaimana Alur Pemeriksaan IGRA di Laboratorium?
Secara teknis, pemeriksaan IGRA berjalan melalui serangkaian tahapan yang harus dilakukan dengan sangat cermat karena sensitif terhadap waktu dan suhu:³
- Pengambilan darah vena menggunakan tabung khusus yang sudah disiapkan sesuai jenis IGRA yang digunakan
- Pengiriman segera ke laboratorium dalam jendela waktu yang ditentukan, umumnya tidak lebih dari 16 jam setelah pengambilan darah, karena sel T harus masih dalam kondisi hidup
- Inkubasi sampel pada suhu 37°C selama 16 hingga 24 jam bersama antigen TB spesifik serta kontrol positif dan negatif
- Pengukuran IFN-γ menggunakan ELISA (QFT) atau penghitungan spot sel (T-SPOT)
- Interpretasi hasil berdasarkan nilai ambang batas yang sudah divalidasi
Tahap pra-analitik, terutama waktu pengiriman dan kondisi penyimpanan sampel, sangat menentukan validitas hasil. Keterlambatan atau penyimpanan pada suhu yang tidak tepat dapat merusak viabilitas sel dan menghasilkan hasil yang tidak valid.
IGRA vs TST (Mantoux): Perbandingan Kritis
Pertanyaan tentang mana yang “lebih baik” antara IGRA dan TST tidak bisa dijawab secara absolut. Panduan CDC menyatakan bahwa IGRA dapat digunakan sebagai pengganti TST di hampir semua situasi di mana tes tuberkulin direkomendasikan.³ Namun masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan yang perlu dipertimbangkan sesuai konteks klinis.
Berdasarkan data USPSTF dan berbagai meta-analisis, performa diagnostik keduanya adalah sebagai berikut: TST dengan batas positif 10 mm memiliki sensitivitas sekitar 79% dan spesifisitas 97%; T-SPOT memiliki sensitivitas sekitar 90% dan spesifisitas 95%; QuantiFERON-TB Gold In-Tube memiliki sensitivitas sekitar 80% dan spesifisitas 97%.⁶ Lebih jauh, IGRA memiliki spesifisitas lebih tinggi dibanding TST pada populasi yang divaksinasi BCG, terutama jika BCG diberikan setelah masa bayi.⁵
Perbandingan karakteristik operasional keduanya secara ringkas:
- Prosedur. IGRA memerlukan satu kali pengambilan darah dengan hasil tersedia dalam 24 hingga 48 jam. TST memerlukan dua kunjungan: injeksi intradermal dan pembacaan reaksi kulit 48 hingga 72 jam kemudian.
- Pengaruh BCG. IGRA tidak terpengaruh oleh riwayat vaksinasi BCG. TST sering menghasilkan positif palsu pada individu ter-BCG.
- Objektivitas. IGRA memberikan hasil numerik yang objektif. TST bergantung pada pengukuran indurasi yang bersifat subjektif.
- Imunosupresi. Keduanya berisiko menghasilkan negatif palsu pada imunosupresi berat, namun T-SPOT relatif lebih stabil karena teknik pemrosesannya.
- Biaya dan akses. TST lebih murah dan lebih mudah dilakukan di fasilitas terbatas. IGRA memerlukan peralatan laboratorium yang lebih kompleks.
Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan IGRA?
ECDC menegaskan bahwa IGRA tidak boleh menggantikan metode diagnostik standar untuk mendiagnosis TB aktif, melainkan memberikan nilai tambah pada situasi klinis tertentu.⁷ Pedoman ATS/IDSA/CDC merekomendasikan penggunaan IGRA terutama pada:⁶
- Kontak erat pasien TB aktif, termasuk anggota keluarga serumah
- Pasien yang akan memulai terapi imunosupresif, seperti terapi biologis anti-TNF, kemoterapi, atau persiapan transplantasi organ, karena risiko reaktivasi TB laten meningkat saat imunitas turun
- Petugas kesehatan di fasilitas dengan risiko paparan TB tinggi, sebagai bagian dari skrining berkala
- Pasien HIV, untuk menilai risiko TB laten sebelum memulai terapi antiretroviral
- Pasien dengan hasil TST positif dan riwayat vaksinasi BCG, untuk mengkonfirmasi apakah positif tersebut mencerminkan infeksi TB sejati
- Pasien dengan TB ekstrapulmonal atau pasien yang hasil BTA dan kulturnya negatif namun secara klinis masih dicurigai TB
- Anak-anak usia di atas 3 tahun dalam situasi tertentu di mana TST tidak dapat dilakukan atau hasilnya tidak dapat dipercaya
Untuk anak di bawah usia 5 tahun, TST masih menjadi pilihan utama yang direkomendasikan.⁶
Cara Membaca Hasil Pemeriksaan IGRA
Hasil IGRA dilaporkan dalam tiga kategori:³
Positif menunjukkan adanya bukti respons imun seluler terhadap antigen TB, mengindikasikan kemungkinan infeksi TB baik laten maupun aktif. Hasil positif tidak serta-merta berarti seseorang menderita TB aktif. Evaluasi lanjutan berupa pemeriksaan klinis, rontgen thoraks, dan pemeriksaan bakteriologis tetap diperlukan.⁶
Negatif menunjukkan tidak ada bukti respons imun terhadap antigen TB pada saat pemeriksaan. Namun hasil negatif tidak sepenuhnya menyingkirkan infeksi TB, terutama pada pasien dengan imunosupresi berat di mana sel T tidak merespons secara memadai.
Indeterminate atau tidak dapat disimpulkan, terjadi ketika kontrol internal pemeriksaan tidak memenuhi syarat validasi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh imunosupresi berat, kesalahan teknis dalam penanganan sampel, atau kondisi klinis tertentu. Pada hasil indeterminate, pemeriksaan umumnya perlu diulang.
Keterbatasan yang Perlu Dipahami
Seperti setiap metode diagnostik lainnya, IGRA memiliki keterbatasan yang harus dipahami agar penggunaannya tepat sasaran:⁵˒⁷
- IGRA tidak dapat membedakan TB laten dari TB aktif secara mandiri. Evaluasi klinis tetap tidak bisa dilewati.
- Pada pasien dengan HIV stadium lanjut atau kemoterapi intensif, risiko hasil indeterminate dan negatif palsu meningkat signifikan.
- Untuk skrining serial petugas kesehatan, IGRA memiliki risiko konversi hasil palsu positif yang lebih tinggi dibanding TST pada pekerja risiko rendah yang sebelumnya negatif.
- Sampel darah harus diproses dalam jendela waktu ketat setelah pengambilan, menjadikan manajemen pra-analitik sebagai aspek kritis.
- Biaya pemeriksaan relatif lebih tinggi dibandingkan TST, yang perlu menjadi pertimbangan di fasilitas dengan sumber daya terbatas.
Peran IGRA dalam Upaya Eliminasi TB di Indonesia
Dalam konteks nasional, pemeriksaan IGRA memiliki posisi yang semakin strategis seiring komitmen Indonesia untuk mencapai target eliminasi TB pada 2030 yang dicanangkan WHO. Program penanggulangan TB Indonesia kini semakin menekankan identifikasi dan pengobatan LTBI sebagai strategi hulu untuk memutus rantai penularan.²
Pedoman teknis penatalaksanaan TB yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI menempatkan diagnosis LTBI, termasuk penggunaan IGRA, sebagai bagian dari alur kerja klinis dan program pencegahan TB (Tuberculosis Preventive Treatment/TPT).²
Ketersediaan pemeriksaan IGRA di laboratorium kesehatan masyarakat memberikan nilai tambah nyata, terutama untuk mendukung skrining kelompok risiko tinggi dan memastikan hasil yang lebih reliabel pada populasi dengan riwayat vaksinasi BCG universal seperti di Indonesia.
Kesimpulan
IGRA adalah kemajuan nyata dalam diagnostik tuberkulosis. Metode ini menawarkan spesifisitas lebih tinggi, objektivitas hasil, dan kemudahan prosedur satu kunjungan yang menjadikannya unggul dalam banyak skenario klinis, terutama pada populasi dengan riwayat vaksinasi BCG.⁵
Namun kelebihan IGRA tidak membuatnya bisa berdiri sendiri. Hasil IGRA harus selalu diinterpretasikan dalam konteks klinis yang menyeluruh, bersama dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, radiologi, dan pemeriksaan bakteriologis yang relevan.⁶˒⁷ Tidak ada satu tes pun yang cukup untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis TB secara tunggal.
Dengan memahami prinsip kerja, indikasi, dan keterbatasannya secara benar, IGRA dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam mendukung deteksi dini infeksi TB laten dan berkontribusi nyata dalam upaya kolektif mengendalikan tuberkulosis di Indonesia.
Referensi
¹ World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: WHO; 2025. Tersedia di: https://www.who.int/teams/global-tuberculosis-programme/tb-reports
² Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Technical Guidelines for the Management of Drug-Sensitive Tuberculosis (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat). Jakarta: Kemenkes RI; 2025. Tersedia di: https://kemkes.go.id/eng/petunjuk-teknis-penatalaksanaan-tuberkulosis-sensitif-obat
³ Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Testing Guidance for Tuberculosis: Interferon Gamma Release Assay. Atlanta: CDC; 9 Mei 2024. Tersedia di: https://www.cdc.gov/tb/hcp/testing-diagnosis/interferon-gamma-release-assay.html
⁴ World Health Organization. Public Call for Data to Inform an Update of WHO Guidance on Interferon-Gamma Release Assays (IGRAs) for Detection of TB Infection. Geneva: WHO; 22 Mei 2024. Tersedia di: https://www.who.int/news-room/articles-detail/public-call-for-data-to-inform-an-update-of-who-guidance-on-interferon-gamma-release-assays-(igras)-for-detection-of-tb-infection
⁵ Mandalakas AM, Detjen AK, Hesseling AC, Benedetti A, Menzies D. Interferon-gamma release assays versus tuberculin skin testing for the diagnosis of latent tuberculosis infection: an overview of the evidence. International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2011. PMC3582085. Tersedia di: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3582085
⁶ Lewinsohn DM, Leonard MK, LoBue PA, et al. Official American Thoracic Society/Infectious Diseases Society of America/Centers for Disease Control and Prevention Clinical Practice Guidelines: Diagnosis of Tuberculosis in Adults and Children. Clinical Infectious Diseases. 2017;64(2):111–115. DOI: https://doi.org/10.1093/cid/ciw778
⁷ European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC). Public Health Guidance on Use of Interferon-Gamma Release Assays in Support of TB Diagnosis. Stockholm: ECDC. Tersedia di: https://www.ecdc.europa.eu/en/node/1157





