GORONTALO — Penanganan kesehatan pada menit-menit pertama kehidupan bayi memegang peranan krusial dalam menentukan kualitas tumbuh kembang dan masa depan anak. Dalam upaya mempercepat pencapaian target program kesehatan anak, Dinas Kesehatan Kota Gorontalo bekerja sama dengan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Makassar menggelar pertemuan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Skrining Bayi Baru Lahir (SBBL) di Kota Gorontalo pada Selasa, 15 September 2026.
Agenda evaluasi berkala ini difokuskan pada tiga parameter penapisan kesehatan dasar bagi neonatus, yakni Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), Skrining Hiperplasia Adrenal Kongenital (SHAK), serta pemeriksaan defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD). Ketiga jenis pemeriksaan ini merupakan instrumen medis vital untuk mengidentifikasi potensi kelainan bawaan dan gangguan metabolisme sejak dini, sehingga tindakan intervensi medis dapat diberikan sebelum timbul komplikasi permanen pada fisik maupun kognitif anak.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Gorontalo serta dihadiri oleh jajaran pengelola program kesehatan ibu dan anak serta tenaga medis dari berbagai fasilitas kesehatan. Kepala BB Labkesmas Makassar, Dr. dr. Irene, MKM, memberikan sambutan sekaligus apresiasi atas dedikasi para tenaga kesehatan di lapangan. Beliau mendorong seluruh pihak untuk memperkuat sinergi demi mengoptimalkan capaian target penapisan hingga akhir tahun 2026.
Dalam sesi pemaparan evaluasi, Ketua Tim Kerja Program Layanan, dr. Irmawaty Haeruddin, MKM, memaparkan capaian riil dari masing-masing parameter penapisan di wilayah Kota Gorontalo. Berdasarkan data yang dihimpun, capaian parameter SHK tercatat berada di angka 32 persen, SHAK mencapai 80 persen, dan pemeriksaan G6PD berada pada tingkat 50 persen. Data ini dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi bersama untuk memetakan kendala operasional serta merumuskan langkah percepatan di tingkat fasilitas pelayanan dasar.
Guna menjamin mutu spesimen yang dikirim ke laboratorium rujukan, rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi bimbingan teknis pengambilan dan penanganan spesimen darah oleh dokter spesialis Patologi Klinik BB Labkesmas Makassar, dr. Fatmawaty Ahmad, Sp.PK. Selain itu, tim Teknologi Informasi (TI) menyampaikan evaluasi pemanfaatan aplikasi pencatatan SIMLAB SBBL guna memastikan alur data dan rujukan spesimen dapat terekam secara terintegrasi dan akurat. Pertemuan diakhiri dengan diskusi interaktif antara narasumber dan para peserta dari fasilitas kesehatan.
Melalui penyelenggaraan kegiatan monitoring dan evaluasi yang komprehensif ini, koordinasi antara pemerintah daerah, laboratorium rujukan, dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat primer diharapkan semakin solid. Peningkatan cakupan Skrining Bayi Baru Lahir secara merata menjadi pilar utama dalam memberikan perlindungan kesehatan sejak awal kehi





