Setiap bayi yang lahir di Indonesia berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjalani skrining bayi baru lahir — pemeriksaan yang dapat mendeteksi kelainan bawaan sebelum gejalanya berkembang menjadi masalah permanen yang memengaruhi kualitas hidup anak sepanjang hayat. Untuk memperkuat program tersebut secara nasional, Kepala BB Labkesmas Makassar bersama Ketua Tim Kerja Program Layanan dan dr. Fatmawaty Ahmad, Sp.PK menghadiri Round Table Discussion (RTD) Skrining Bayi Baru Lahir (SBBL) 2026 yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesehatan Anak Global (YKAG) pada 26 Juli 2026 di Jakarta.
Forum ilmiah yang berlangsung di The Ritz-Carlton Jakarta ini mempertemukan para pakar terkemuka, praktisi, dan pemangku kepentingan nasional dalam satu meja diskusi yang berfokus pada penguatan program skrining bayi baru lahir di Indonesia. Rangkaian materi ilmiah disampaikan oleh sejumlah dokter spesialis anak dan patologi klinik, antara lain Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan, Dr. dr. Delita Prihatni, dan Dr. dr. Ina Susianti Timan — diikuti sesi tanya jawab, scientific session, dan open discussion yang melibatkan seluruh peserta. Tim Kerja Skrining Bayi Baru Lahir Kemenkes Indonesia turut hadir memaparkan perkembangan program secara nasional.
Sebagai salah satu laboratorium pelaksana program SBBL, keikutsertaan BB Labkesmas Makassar dalam forum ini membawa makna yang konkret. Setiap masukan ilmiah, pembaruan kebijakan, dan pengalaman praktis yang diserap dari diskusi bersama para pakar nasional akan langsung memperkuat implementasi program SBBL di wilayah cakupan BB Labkesmas Makassar — yang meliputi provinsi-provinsi di kawasan Indonesia Timur di mana akses terhadap deteksi dini kelainan bawaan selama ini masih menjadi tantangan tersendiri.
RTD seperti ini merupakan ruang strategis yang mempertemukan ilmu pengetahuan terkini dengan kebutuhan lapangan. Ketika para spesialis, regulator, dan pelaksana program duduk bersama, kebijakan yang dihasilkan lebih responsif terhadap realitas di lapangan — dan implementasi program di daerah dapat berjalan lebih efektif karena didukung oleh pemahaman yang lebih mendalam dan jejaring kolaborasi yang lebih kuat.
Bagi bayi-bayi yang akan lahir di wilayah Indonesia Timur, setiap penguatan yang terjadi dalam program SBBL — baik di level kebijakan nasional maupun kapasitas pelaksana di lapangan — adalah investasi nyata bagi masa depan mereka. Semakin dini kelainan bawaan terdeteksi, semakin besar peluang setiap anak untuk tumbuh sehat, berkembang optimal, dan meraih kehidupan yang penuh harapan.





