Anak-anak Indonesia — khususnya mereka yang tinggal di wilayah Indonesia Timur — berhak mendapatkan perlindungan terbaik dari campak dan rubela, dua penyakit yang dapat dicegah namun masih menjadi ancaman serius apabila pendeteksiannya terlambat. Menjawab tanggung jawab itu, BB Labkesmas Makassar menerima kunjungan Tim WHO Western Pacific Regional Office (WPRO) bersama Direktorat P2P Kementerian Kesehatan dan BB Biokes Jakarta selaku Laboratorium Nasional Campak Indonesia, dalam rangka misi Akreditasi Jejaring Laboratorium Campak-Rubela (Measles-Rubella/MR) Indonesia yang berlangsung 20–31 Juli 2026.
Misi akreditasi ini dipimpin langsung oleh Dr. Roger Evans, Regional Coordinator for the Measles-Rubella Laboratory Network WHO WPRO, dan mencakup 11 laboratorium nasional dan subnasional di seluruh Indonesia. Di BB Labkesmas Makassar, tim WHO melakukan serangkaian penilaian komprehensif — mulai dari lab tour, diskusi teknis mendalam, hingga telaah menyeluruh terhadap sistem manajemen mutu, prosedur pengujian campak dan rubela, sistem keamanan hayati, dan kelengkapan dokumentasi laboratorium. Setiap aspek dinilai secara ketat sesuai standar global WHO untuk jejaring laboratorium Measles-Rubella.
Akreditasi jejaring laboratorium campak-rubela oleh WHO merupakan mekanisme penjaminan mutu tertinggi yang memastikan laboratorium mampu mendeteksi dan mengkonfirmasi kasus campak dan rubela secara cepat, akurat, dan sesuai dengan protokol surveilans global. Laboratorium yang terakreditasi memiliki peran krusial dalam sistem deteksi dini — setiap spesimen suspek yang dikirim dari fasilitas kesehatan di wilayah binaannya dapat segera dikonfirmasi, memungkinkan respons penanganan dan pengendalian wabah dilakukan sebelum penyebaran meluas.
Bagi upaya eliminasi campak dan rubela di Indonesia, keberadaan laboratorium subnasional yang terakreditasi di kawasan Indonesia Timur seperti BB Labkesmas Makassar adalah fondasi yang tidak dapat digantikan. Tanpa laboratorium berstandar global yang dekat dengan titik-titik berisiko, proses konfirmasi kasus akan memakan waktu lebih lama dan memperlambat respons — sebuah selisih waktu yang dalam konteks wabah campak yang sangat menular dapat menentukan luasnya dampak pada komunitas, terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Keikutsertaan BB Labkesmas Makassar dalam proses akreditasi berstandar global ini adalah bukti nyata bahwa komitmen terhadap eliminasi campak dan rubela tidak berhenti pada program imunisasi semata — ia juga harus ditopang oleh sistem laboratorium yang kuat, andal, dan diakui secara internasional. Karena generasi mendatang yang bebas dari campak dan rubela dibangun di atas laboratorium yang mampu mendeteksinya dengan tepat, sejak hari pertama kasus muncul.





