Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility

Virus Nipah: Ancaman Zoonotik dengan Risiko Tinggi — Fakta, Gejala, Penularan, dan Pencegahan

Ilustrasi kelelawar pembawa virus Nipah

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan hewan. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (fruit bats/Pteropus spp.), yang tidak sakit sendiri tetapi bisa menularkan virus ini ke hewan lain seperti babi atau langsung ke manusia.

Penularan ke manusia biasanya terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan yang tercemar oleh ekskresi kelelawar (misalnya nira atau air nira yang terkontaminasi), atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi saat wabah di peternakan babi di Sungai Nipah, Malaysia dan Singapura pada tahun 1999, yang membuat ratusan orang sakit dan banyak yang meninggal.

Status Kasus dan Tren Global

WHO mencatat bahwa Nipah tidak tersebar luas secara global seperti beberapa virus lain, namun virus ini sering menyebabkan outbreak lokal di Asia Selatan, terutama di Bangladesh dan India.

Sejak awal 2025 hingga pertengahan tahun itu, Bangladesh melaporkan empat kasus fatal Nipah yang terjadi di berbagai distrik, masing-masing tidak saling terkait secara epidemiologis. Dari tahun 2001 hingga 2025, lebih dari 347 kasus telah dikonfirmasi di negara tersebut, dengan tingkat kematian sekitar 71,7 %.

Di India bagian selatan (terutama Kerala), Nipah juga berulang kali muncul dalam beberapa tahun terakhir, dengan laporan kasus sporadis antara tahun 2018 dan 2025 yang menunjukkan bahwa virus ini tetap menjadi ancaman lokal.

Kasus baru di Barat Bengal, India, pada awal 2026 juga dilaporkan oleh otoritas kesehatan setempat: meskipun jumlah kasus kecil dan terbatas pada klaster tertentu, respons cepat petugas kesehatan dipicu untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

Gejala Klinis Virus Nipah

Gejala infeksi virus Nipah dapat bervariasi dari ringan hingga sangat berat. Masa inkubasi — waktu antara terpapar hingga gejala pertama — biasanya berkisar 4–14 hari, tetapi dapat sampai beberapa minggu.

  • Gejala awal mirip flu umum:
  • Demam tinggi mendadak
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Mual, muntah
  • Sakit tenggorokan

Seiring perkembangan penyakit, virus dapat menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan:

  • Pusing dan kebingungan
  • Mudah mengantuk atau penurunan kesadaran
  • Kejang
  • Ensefalitis (radang otak) yang cepat berkembang
  • Komplikasi pernapasan berat yang bisa mengancam nyawa

Bagaimana Virus Nipah Menular?

Virus Nipah termasuk penyakit zoonotik, artinya menyerang hewan dan dapat menular ke manusia. Jalur penularannya antara lain:

  • Kontak langsung dengan hewan terinfeksi: termasuk kelelawar buah atau hewan lain (seperti babi) yang menjadi perantaranya.
  • Konsumsi makanan yang terkontaminasi: seperti buah atau nira yang bersentuhan dengan air liur, urin, atau ekskresi kelelawar.
  • Kontak langsung antar manusia: terutama melalui cairan tubuh atau droplet pernapasan orang yang terinfeksi.
  • Tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa perlindungan memadai juga berisiko tinggi tertular.

Tingkat Keparahan dan Risiko Kematian

Virus Nipah mempunyai tingkat kematian yang tinggi, bervariasi antara sekitar 40 % hingga lebih dari 70 % tergantung pada lokasi, respons kesehatan masyarakat, dan kecepatan deteksi serta layanan medis.

Tidak ada vaksin resmi yang tersedia saat ini dan tidak ada obat antivirus khusus yang terbukti efektif secara luas. Penanganan medis fokus pada perawatan suportif, yaitu membantu fungsi tubuh dan mencegah komplikasi berat.

Upaya Indonesia dan Internasional dalam Kewaspadaan

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI telah meningkatkan kewaspadaan meskipun sampai awal 2026 belum ada kasus Nipah yang dikonfirmasi di Indonesia. Langkah ini mencakup:

  • Penguatan sistem deteksi dini di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan laut.
  • Skrining kesehatan bagi pelaku perjalanan dari negara yang melaporkan kasus.
  • Edukasi bagi fasilitas pelayanan kesehatan dan laboratorium untuk segera mendeteksi dan merespons dugaan kasus.

WHO juga terus memantau situasi global dan memasukkan Nipah dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi menimbulkan wabah karena tingkat keparahan dan ketiadaan vaksin.

Apa yang Harus Diketahui Masyarakat?

  1. Waspadai Faktor Risiko Lingkungan
    Hindari konsumsi makanan mentah yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar — terutama buah yang jatuh atau nira/air nira yang tidak diproses higienis.
  2. Kenali Gejala Dini
    Infeksi Nipah bisa tampak seperti flu pada awalnya. Jika ada demam yang tidak biasa diikuti gejala neurologis atau gangguan pernapasan berat setelah kontak dengan hewan atau orang sakit, segera cari bantuan medis.
  3. Praktik Pencegahan Dasar
    – Cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.
    – Hindari kontak langsung dengan kelelawar atau hewan yang sakit.
    – Gunakan alat pelindung diri sesuai rekomendasi jika merawat pasien dengan dugaan infeksi Nipah.

Kesimpulan

Virus Nipah adalah patogen zoonotik serius dengan potensi menyebabkan penyakit berat dan tingkat kematian tinggi. Meski belum meluas seperti pandemi besar lainnya, Nipah telah menyebabkan beberapa outbreak lokal berulang di Asia Selatan, termasuk kasus yang dilaporkan di India pada awal 2026. Tidak adanya vaksin atau terapi khusus membuat deteksi dini, pengendalian penularan, serta kewaspadaan masyarakat menjadi langkah penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *